Karya Seni Rupa 'Beyond The Major Art'


KARYA SENI RUPA BEYOND THE MAJOR ART

Komik


Komik merupakan karya seni perpaduan antara seni rupa dengan karya sastra, yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk visual atau gabungan bentuk visual dengan keterangan verbal. Istilah komik berasal dari bahasa Inggris comic yang berarti cerita atau buku komik, yang bersifat gembira, cerita bergambar yang lucu. Oleh karena itu komik sering dianggap sebagai karya sastra bergambar, dan untuk membedakan komik bersambung dengan komik lengkap, ungkapan Ingris Co-mic-strips dan Comic-book praktis untuk digunakan karena tidak menimbulkan kekaburan makna.

Manga


Secara umum manga diartikan sebagai komik made in Japan. Manga bukan lagi menjadi sesuatu hal yang asing bagi generasi muda dan anak-anak pencinta komik dan animasi. Manga adalah istilah yang digunakan untuk menyebut komik Jepang. Kata manga digunakan pertama kali oleh seorang seniman bernama Hokusai Katsushika dan berasal dari dua huruf Cina yaitu kata manga yang artinya gambar manusia untuk menceritakan sesuatu. Dalam sejarah manga, yang tidak boleh dilupakan adalah peranan Osamu Tezuka yang dikenal sebagai “God of Manga”. Ada delapan teknik bercerita manga, menurut McCloud dalam bukunya “Membuat Komik” yaitu: 
1.      Wajah-wajah dan figur-figur digambarkan secara sederhana emotif yang memancing identifikasi pembaca. Penggambaran wajah dan figur dibuat secara sederhana tanpa detail. Misalnya hanya dengan garis dan blok hitam, tapi dengan mudah dapat mengenalinya sebagai wajah manusia, wajah laki-laki atau perempuan.  
2.   Kesan Tempat yang Kuat Rincian lingkungan yang dipicu ingatan indrawi dan ketika dipertemukan dengan karakter ikonik akan memancing “efek masking” yang artinya dalam frame akan tampak gambar yang kurang menyatu karena terlihat perbedaan antara latar belakang dengan gambar tokoh. Latar belakang biasanya digambarkan dengan realis dan tokoh dalam kartun yang sangat sederhana.
3.      Frame Bisu Penggunaan panel bisu dipadukan dengan transisi aspek ke aspek mendorong pembaca menyusun keinginan untuk memperoleh informasi rupa dari setiap adegan.
4.      Gerak Subjektif Menggunakan latar yang kurang jelas atau mengganti latar dengan efek garis sehingga pembaca merasa bergerak bersama karakter dalam komik tersebut. 
5.      Kematangan Genre Pemahaman cara bercerita yang unik mendorong terciptanya ratusan genre seperti fiksi ilmiah, fantasi, horor, komedí, detektif dan sebagainya. 
6.      Rancangan Karakter Rancangan karakter yang sangat beragam, menampilkan tipe wajah dan tubuh yang berbeda serta asesoris yang dengan mudah dapat kita kenal. Misalnya dengan perbedaan warna rambut, sensata yang dibawa setiap tokoh, dan jenis pakaian yng digunakan. 
7.      Rincian Dunia Nyata Dibuat sampai ke hal-hal yang kecil. Sebuah apresiasi untuk sebuah keindahan untuk hal yang remeh dan kaitannya dengan nilai-nilai pengalamann sehari-hari. Bahkan dalam cerita fantastis atau melodramatik. 
Di Indonesia sendiri, kehadiran manga di berbagai kios dan toko buku telah mendominasi komik-komik negara lain. Perubahan drastis pada komik Jepang dimulai dengan penerbitan majalah Shonen Sunday dan Shonen Magazine untuk anak-anak pada tahun 1959. Komikus mulai membuat serial komik menjadi panjang yang dapat diperpanjang jika kemudian menjadi populer, langkah yang kemudian munculnya majalah komik mingguan. Mingguan ini pula yang memaksa mangaka untuk melakukan inovasi dalam teknik dan lambat laun mengubah gaya gambar komikus menjadi gaya manga seperti yang dikenal pada saat ini. Adapun jenis-jenis manga yaitu:
1.      Shoujo Manga
Shoujo manga yaitu manga yang lebih diperuntukkan bagi anak perempuan. Jepang adalah negara pertama yang memelopori lahirnya komik khusus untuk kaum hawa dan satu-satunya di dunia yang perkembangan komik perempuannya sangat maju. Dulu shoujo manga hanya dibuat dalam bentuk komik strip dengan kisah sederhana yang lebih bersifat humor. Bahkan setelah diamati, ternyata mangaka wanita lebih mampu menyajikan kisah yang disukai pembacanya. Kelonggaran waktu ini membuat para manga-ka lebih santai dan mampu berkarya secara maksimal dalam pengolahan karakter yang lebih dalam, suasana dan setting yang mendetail untuk mendukung cerita. Mereka juga mulai mengeksplorasi tema-tema baru seperti kepahlawanan, science fiction, bahkan menampilkan kisah percintaan yang lebih berani, yang dibumbui dengan shoujo-ai. Variasi tema ini menyebabkan shoujo manga tidak cuma disukai anak sekolahan, tapi juga digemari wanita muda bahkan yang sudah berumah tangga.
2.      Shounen Manga
Shounen manga adalah manga yang lebih dikhususkan untuk pembaca laki-laki. Ceritanya berkisar pada hal-hal yang disukai laki-laki, seperti olahraga atau petualangan seru penuh aksi. Tema manga yang paling digemari waktu itu adalah kisah petualangan, humor dan science fiction yang diilhami oleh karya-karya Tezuka. Namun kemudian para pembaca majalah Shounen mulai beranjak dewasa dan banyak pemuda beralih dari majalah anak-anak ke gekiga, yaitu manga dengan cerita bertema serius yang disewakan di toko-toko manga. Saat pertama kali terbit di tahun l968, Shounen Jump tidak ada apa-apanya dibandingkan dua raksasa majalah Shounen pendahulunya. Manga-ka yang bekerja pada penerbit Shueisa cuma komikus-komikus baru yang belum punya nama karena para manga-ka terkenal telah dimonopoli Kodansha dan Shogakukan.
3.      Doujinshi Manga
Doujinshi adalah manga, tetapi kisah-kisah doujinshi lebih banyak dibuat berdasarkan cerita manga yang sudah ada dan dibuat oleh penggemarnya. Tapi kemudian muncul doujinshi yang dibuat oleh manga-ka profesional berupa parodi atau side story dari manga karangannya. Doujinshika belum ada yang menyebarkan manga dalam bentuk tankobon.

Graffiti


Grafiti Menurut kamus Oxford Advanced learner’s Dictionary merupakan kegiatan menulis atau menggambar pada tembok atau media lainnya di tempat umum yang biasanya kasar, lucu atau mengandung unsur politik. Graffti adalah salah satu tulisan ataupun penanda yang dengan sengaja dibuat oleh manusia pada suatu permukaan benda, baik itu milik pribadi ataupun publik. Sebuah graffti dapat berupa sebuah karya seni, gambar ataupun katakata. Tidak ada yang mengetahui secara jelas kapan seni yang satu ini mulai populer di dunia, yang jelas beberapa bukti menunjukan bahwa grafiti sudah ada pada masa pemerintahan kerajaan Roma. Grafiti pun mulai mengalami perubahan dari masa ke masa dan akhirnya sekarang lebih kita kenal dengan modern grafiti.

Sejarah Graffiti
Grafiti di Pompeii di atas mengandung tulisan rakyat yang menggunakan bahasa Latin Rakyat dan bukan bahasa Latin Klasik. Kebiasaan melukis di dinding bermula dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasikan perburuan. Pada masa ini, grafitty digunakan sebagai sarana mistisme dan spiritual untuk membangkitkan semangat berburu. Perkembangan kesenian di zaman Mesir kuno juga memperlihatkan aktivitas melukis di dinding-dinding piramida. Lukisan ini mengkomunikasikan alam lain yang ditemui seorang pharaoh setelah dimumikan. Gambar pada gua itu sangat berbeda dari gambar hiasan dinding buatan jaman purba yang biasanya bertujuan untuk memperindah tempat tinggal manusia yang mendiaminya. Gambar tersebut bermakna lebih dalam, yaitu mengandung pesan pengharapan.
Terlepas dari tujuan pembuatanya, gambar pada gua itu dapat dikatagorikan sebagai grafiti. Dinding memang menjadi satu media utama bagi para bomber. Permukaan yang luas dan datar menjadi salah satu alasanya. Arang, kapur atau batu adalah salah satu bahan materi, dengan objek yang umumnya menggambarkan binatang atau gambar tentang perburuan. Namun dibalik kesederhanaan dari grafiti pada masa itu, baik materi dan medianya, bahkan juga tujuanya. Tetapi telah menyumbangkan satu bentuk catatan sejarah yang menggambarkan kondisi dan perilaku sosial pada masa itu. Mewariskan satu bentuk ekspresi seni, ternyata juga ditinggalkan oleh grafiti-grafiti, yang kemudian sampai sekarang ini hal tersebut masih dilakukan. Perkembangan zaman dan perubahan tatanan masyarakat ternyata memberi dampak yang cukup besar bagi perkembangan seni grafiti.

Perkembangan graffiti
Pada perkembangannya, grafiti di sekitar tahun 70 an di Amerika dan Eropa akhirnya merambah ke wilayah urban sebagai jati diri kelompok yang menjamur di perkotaan. Karena citranya yang kurang bagus, grafiti telanjur menjadi momok bagi keamanan kota. Alasannya adalah karena dianggap memprovokasi perang antar kelompok atau gang. Gang grafiti yaitu grafiti yang berfungsi sebagai identifikasi daerah kekuasaan lewat tulisan nama gang, gang gabungan, para anggota gang, atau tulisan tentang apa yang terjadi di dalam gang itu.
Tagging grafiti Yaitu jenis grafiti yang sering dipakai untuk ketenaran seseorang atau kelompok. Semakin banyak grafiti jenis ini bertebaran, maka makin terkenallah nama pembuatnya. Karena itu grafiti jenis ini memerlukan tagging atau tanda tangan dari pembuat atau bomber-nya. Bisa dibilang demikian karena kegiatan ini dilakukan secara diam-diam dan biasanya dilakukan pada malam hari. Membicarakan grafiti dan politik maka tidak akan lepas dengan seorang tokoh yang bernama Alexander Brener. Ialah yang pertama kali membawa politik ke seni, dan ia juga yang pertama kali menyuarakan politik lewat media yang satu ini. Grafiti sekarang mulai memasuki masa keemasannya, selain di Indonesia sendiri, di Ameri-ka atau tepatnya di Brooklyn Museum sering diadakan pameran grafiti yang kini disebut juga sebagai seni kontemporer.

Graffiti Pada Zaman Modern


Adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh menimbulkan kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk mengekspresikan kegiatan seninya. Akibatnya beberapa individu menggunakan sarana yang hampir tersedia di seluruh kota, yaitu dinding. Pendidikan kesenian yang kurang menyebabkan objek yang sering muncul di grafiti berupa tulisan-tulisan atau sandi yang hanya dipahami golongan tertentu. Grafiti memiliki keindahan tersendiri, karena ia hadir dari seni, kebanyakan pelukis grafitti akan mencurahkan isi hati mereka lewat simbol-simbol, kata-kata, bahkan terkesan komikus.
Karena ledakan kreativitas, media yang tidak dimaksudkan sebagai ajang seni dapat menjadi ajang seni, dan kehadirannya patut diapresiasi sebagai wujud kreatif dari kelas yang semestinya lebih dihargai dan diarahkan ke hal-hal positif. Hal tersebut kemudian diikuti oleh banyak anak muda disana, yang seperti terinspirasi oleh Taki. Hal ini karena hanya dengan melakukan coretan nama ditempat-tempat umum, maka dengan mudah dapat menjadi terkenal. Grafiti juga dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sekali lagi hanya bermotifasi untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya.

Fungsi Grafiti
1.      Bahasa rahasia kelompok tertentu.
Grafiti mengalami satu perkembangan dalam tujuanya. Yang selalu menuliskan namanya, entah itu didalam kereta atau di dinding bis kota, yang kemudian membuat Taki menjadi terkenal. Grafiti juga dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang sekali lagi hanya bermotifasi untuk dapat menjadi dikenal kelompoknya.
2.      Sarana ekspresi
Seiring perkembangan jaman perubahan gaya hiduf (life style). Adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh menimbulkan kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk mengekspresikan kegiatan seninya. Akibatnya beberapa individu menggunakan sarana yang hampir tersedia di seluruh kota, yaitu dinding
3.      Sarana pemberontakan.
Grafiti sebagai media propaganda atau kritik atas satu kondisi sosial yang ada. Sehingga hasil dari coretan tersebut pun, bukan sekedar kata-kata atau tulisan. Kalaupun bentuk penyampaianya hanya berupa tulisan atau coretan, namun ketika coretan tersebut mempunyai makna, pesan atau kritik sosial, maka makna, pesan ataupun kritik sosial dari coretan tersebut adalah sebuah bentuk seni tersendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDEKATAN BAHASAN SENI RUPA

POSISI BIDANG KERJA DESAIN DALAM SENI RUPA