PENDEKATAN BAHASAN SENI RUPA



PENDEKATAN BAHASAN SENI RUPA

  1. Pendekatan Bahasan Seni Rupa
Membicarakan seni rupa sebagai kajian keilmuan, tidak lagi terbebas dari masuknya tinjauan dengan pendekatan bidang ilmu lain. Bidang kajian antropologi, sosiologi, dan psikologi, sudah lama menjadi bidang kajian yang melengkapi pendekatan bahasan seni rupa.
Para antropolog telah lama tertarik untuk mengumpulkan data tentang hasil budaya fisik, hasil kegiatan masyarakat yang visual, yaitu karya-karya seni rupa. Dari kegiatan-kegiatan tersebut lahir sebutan pendekatan entografi tetapi dengan penekanan pada perubahan pendekatan yang sekaligus sebagai revisi terhadap pola pendekatan antropolog yang hanya “sekadar” mencatat sesuatu itu sebagaimana apa adanya. Oleh karena itu, bahasan kesenirupaan bisa melibatkan sisi sosiologis masyarakat pendukungnya, juga melibatkan masalah kejiwaan pelakunya dan zamannya.

  1. Pendekatan Antropologi tentang Seni Rupa
Pandangan para antropolog tentang keberadaan seni rupa, harus menjadi bahan kajian bagi para pemerhati seni rupa. Para antropolog tidak pernah memilah bahasan seni rupa berdasarkan kelompok utama-remeh atau murni-terap. Karena kegiatan seni adalah bagian dari kegiatan manusia, “seni tidak bisa dipisahkan dari kehidupan” (Herkovits, 1955: 234). Bahasan para antropolog tentang arts, seni, seni rupa ini, terutama memperhatikan bentuk, tenkik pembuatan, motif hias, dan gaya (Koentjaraningrat, 1990: 380).
Bentuk dan jenis karya seni rupa yang disebut oleh para antropolog atau pun penyusun buku yang lebih condong menggunakan cara pendekatan antropologis dalam bahasan isi bukunya, bisa diperiksa dalam buku-buku seperti berikut
i)        Rene S. Wassing (1968) lewat satu bukunya African Art (286 halaman), menampilkan benda-benda seni rupa lengkap dengan gambar berwarna, masing-masing sehalaman penuh. Benda-benda seni rupa tersebut antara lain: topeng berbentuk topi penutup kepala (mirip helm), topeng, ukiran cadas, kotak minyak wangi, patung kecil, kapak upacara, tenunan, pot bunga, keranjang, patung kepala, tempat duduk tanpa sandaran, piagam, cangklong, gerabah, batik, sendok upacara, dan terompet. Ditampilkan pula mangkuk, kotak bertutup, genderang upacara, sisir, sandaran leher, piala, bejana, tempat madu,pakaian, makam, tongkat tari, sampiran anak panah, kursi, gelang, pintu, lonceng, kecapi, tali leher, lampu minyak, tempat susu, kotak tembakau, boneka, dan tameng tentara.
ii)      Buku Introduction to Cultural Anthropology (1968) yang disusun oleh James A. Clipton (Ed.), terdiri atas 18 bab, 540 halaman. Salah satu bab, 40 halaman, secara khusus membahas Art in the Life of Primitive Peoples. Benda-benda seni rupa yang ditampilkan, sebagian dilengkapi gambar penjelas, adalah: selimut, topeng (benda yang paling banyak dibahas), patung (bentuk manusia), piagam, lukisan, dan tenunan.
iii)    Buku yang lain, Art and Life in New Guinea (1979) yang didudun oleh Raymond William Firth, berisi bahasan tentang karya-karya seni rupa yang lebih beragam. Buku setebal 130 halaman ini menampilkan ikat pinggang, perahu, rumah, tengkorak kenang-kenang-an (skull-trophies), haluan perahu, kapak, alu batu, topeng, tas,mangkuk, sudip, tempat menyimpan kapur, pedang, pemukul (senjata), cangklong, kotak bambu, seruling, kepala tongkat, genderang, pinggiran topi, tempat duduk, tongkat tari, tameng, dan kuburan. Jenis benda yang paling banyak ditampilkan adalah haluan perahu, tameng, sudip, dan genderang.

  1. Pendekatan Sosiologi tentang Seni Rupa
Disimpulkan, P.J. Bouman (1954) dan Jaques Lennhardt menunjuk keterkaitan antara seni (penggubah seni, karya seni) dengan keadaan masyarakat (penikmat seni dan pemerhati atau pengemat seni). Pada kenyataannya, seniman atau penggubah karya seni, siapapun dia, pedesa ataupun pekota, selalu menanggapi lingkungan sebagai sumber inspirasi dalam proses penggubahan karyanya. Bahkan, dalam karya-karya seni tradisional, gambaran lingkungan sangat kental. Semua masyarakat pendukung suatu kesenian tradisional tertentu akan merasa menjadi bagian dari sistem nilai yang ada dalam kesenian tersebut. Lebih khusus dalam kesenian primitif. Kesenian primitif adalah jenis kesenian yang paling mudah diberi tafsiran sosiologis, karena secara nyata menunjukkan perasaan kelompok masyarakat pendukungnya.
Pada sejumlah seni pertunjukan tradisional, kita bisa menyaksikan keterlibatan penonton (masyarakat) di dalam adegan-adegan yang dipertunjukkan oleh pemain. Bahkan, penonton bisa secara bebas berdialog dengan pemain, memberi masukan kepada pemain, meminta bentuk pertunjukan tertentu, atau sekadar menanggapi apa yang dilakukan oleh pemain.
Diakui oleh Baouman bahwa tafsiran sosiologis untuk jenis-jenis seni modern, yang menggambarkan individualitas senimannya, sangat sulit dilakukan. Ia mengangkat pendapat W. Kloos yang menyataan bahwa kesenian modern itu merupakan “pernjataan yang paling individual dari perasaan-perasaan yang paling individual”. Tetapi, meskipun demikian, Bouman masih mengakui bahwa seniman tetap tidak bisa lepas dari pengaruh waktu dan lingkungannya.
Gaya, aliran, atau isme, tidak menjadi bagian kajian dalam sosiologi seni. Itu semua menjadi bagian kajian sejarah kesenian. Yang dikaji dalam pendekatan sosiologi seni adalah latar belakang keadaan masyarakat sebagai lingkungan seniman berada, yang mempengaruhi kelahiran suatu gaya. Lingkungan masyarakat seperti apa yang melatari kelahiran daya seni abstrak, misalnya. 

Secara sosiologis, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang santun, suka menghargai sesama, mementingkan kebersamaan, erat ikatan batinnya dengan tradisi, dan sejumlah ciri sosiologis lainnya. Masyarakat Indonesia, pun sebagian telah menjadi masyarakat kota besar yang mulai memiliki ciri-ciri sosiologis masyarakat kota besar, bahkan untuk lingkungan tertentu telah menampakkan ciri masyarakat metropolis kotakota besar dunia. Radio, televisi, dan  kini, nternet  dan telefon seluler, telah mengubah sedikit  demi  sedikit pola kehidupan  masyarakat tatap-muka menjadi masyarakat seluler, serba saluran elektronis.
Perilaku mempertahankan sesuatu secara bertanggung jawab, mungkin, mulai terkikis dengan perilaku serba instan, serba merasa mudah, dan serba merasa kurang memiliki penghargaan terhadap sesuatu. Pendidikan penghargaan perlu dihidupkan dalam lingkungan masyarakat, agar bisa mengimbangi  arus besar  individualisme yang telah mencerabutkan rasa dan keberadaan manusia dari akar-awal. Perhatikan bagaimana bangsa ini kurang menghargai peninggalan para leluhur. Banyak kalangan yang memakai ras dan pikir untuk masa datang ketimbang merasa terikat dengan masa lalu.
Bahasan para ahli tentang sosiologi seni, seperti yang ditunjukan dalam pola bahasan Bouman, condong kepada kelompok masyarakat seni pekota. Kedudukan seniman pedesa, seniman tradisi, masyarakat kebanyakan, kurang mendapat perhatian. Hal itu merupakan bentuk kesenjangan teori, seperti juga yang terjadi dalam dunia teori seni rupa Barat.
Masyarakat yang kini disebut sebagai masyarakat tradisi, pada zamannya adalah kelompok masyarakat pekota. Tetapi karena perubahan zaman, terjadi pergeseran dalam penyebutan posisi mereka. Sebagaimana ketika masyarakat masa kini sadar bahwa teknologi adalah milik mereka, hasil capaian mereka dalam mengolah alam lingkungannya, hal itu menjadi hal yang sama pada kelompok masyarakat lainnya dalam kurun waktu yang berbeda. Tradisi tidaklah mengacu waktu melainkan menyangkut kondisi. Sebagaimana sebutan primitif yang selalu dihindari teoretisi seni Eropa untuk menyebut kondisi masyarakat mereka, kondisi itu bisa kita temukan pada masyarakat masa kini yang telah dianggap postmodern.

  1. Pendekatan Psikologi tentang Seni Rupa
Pendekatan psikologi terhadap seni lebih cenderung berupa kajian estetis yang dikaitkan dengan perilaku dan pengalaman manusia dalam pengolahan, penikmatan,  ataupun pe-ngaruh  seni. Para ahli psikologi mengenal dua bentuk pendekatan psikologis: Pendekatan Gestaltism (The Psychology of Vision, Psikologi Cerapan) dan pendekatan Psikologi Analitik. Dalam buku ini lebih khusus akan dibahas dibahas pendekatan yang kedua, pendekatan psikologi analitik dari Carl Gustav Jung.
Merujuk ciri-ciri tipe psikologis yang dikemukakan oleh Jung, bertalian dengan pelaku seni modern, secara garis besar terdiri atas empat kelompok seperti berikut.
  
Realisme, Naturalisme, dan Impressionisme 

Kelompok seniman yang menganut tiga aliran seni ini mengutamakan unsur pikir dalam kegiat-annya. Tampilan kelompok ini menunjukkan sikap peniruan terhadap dunia-luar alam. Tampil-an utama karya yang dilatari ketiga aliran ini adalah sesuatu yang nyata. Kenyataan inilah yang menuntut unsur pikir karena peniruan bentuk real, natural, maupun impression adalah peniruan terhadap bentuk-bentuk yang ada di alam. Walaupun kemudian ada penambahan tertentu, ikatan bentuk-bentuk yang nyata sebagai unsur utama dalam model atau objek benda yang ditiru tetap ketat. Sesuatu yang nyata tampak jelas dalam bentuk-luar objek.  

Superrealisme dan Futurisme     

Peranan sensasi sangat kuat dalam konsep kegiatan kelompok ini. Mereka menunjukkan perhatian terhadap nilai-nilai spiritual dalam memanggapi dunia-luar alam. Dunia-luar, bagi ke-lompok ini, masih menjadi perhatian yang utama. Mereka menggunakan sensasi bentuk nyata dengan menambahkan unsur-unsur tampilan yang luar biasa, berlebihan, bahkan menampakkan kondisi yang ada di luar dunia nyata.   

Fauvisme dan Expressionisme 

Peranan sesnsasi sangat kuat dalam konsep kegiatan kelompok ini. Karya mereka menampilkan kerinduan terhadap sensasi rasa perseorangan senimannya. Senimanseniman ini mengutamakan subjektivitas dirinya dalam mengolah karya.
Cubisme, Constructivisme, dan Functionalisme
Bagi kelompok ini, intuisi menjadi titik pusat konsep berpikir mereka. Mereka menunjukkan keasyikan dengan bentuk-bentuk mujarad (abstrak)
 
Daftar Pustaka :
Buku Tinjauan seni rupa / oleh Drs. Jajang Suryana, M.Sn.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

POSISI BIDANG KERJA DESAIN DALAM SENI RUPA