POSISI BIDANG KERJA DESAIN DALAM SENI RUPA



POSISI BIDANG KERJA DESAIN DALAM SENI RUPA

  1. Fenomena Desain
Desain adalah proses dan juga hasil dari proses. Proses meliputi bentuk gagasan dan metode. Hasil dari produk mencakup gaya dan estetika. Secara nyata proses dan hasil dari proses itu terkait dengan pengaruh  dari proses itu terkait dengan pengaruh dari luar seperti kemajuan sains dan teknologi lingkungan social budaya dan kaidah estetika yang berlaku. Oleh karena itu, desain tidak netral, tidak bisa menentukan perkembangan dirinya sendiri. Ketika disadaribahwa produk yang sama tetapi dengan desain yang berbeda memberi pengaruh lebih baik kepada perhatian pengguna, maka pengembangan produk benda merupakan suatu hal yang tidak bisa ditunda.
  1. Desain Sebagai Bidang Kegiatan Seni Rupa
Pengelompokan hasil kegiatan seni rupa menjadi seni murni dan seni terap, seperti telah diuraikan, menunjukkan posisi pelakunya. Tak bisa dipungkiri, desain telah menjadi satu label keberhasilan benda produk. Sejalan dengan pemikiran masyarakat kota yang lebih terdidik, benda produk dilahirkan dalam kesenggangan pencarian. Kebaruan, kelainan, keunikan sebagai gambaran tuntutan pola piker para medernis, baik dalam hal bentuk maupun aneka kemungkinannya, telah dipadukan dengan desain mereka. Aneka riset dilakukan untuk mengembangkan temuan desain baru. Sejarah mencatat bidang seni rupa ini telah menjadi contoh keberhasilan yang luar biasa.
  1. Desain Yang Tak Pernah Berhenti
Berikt ini adalah contoh desain yang tak pernah berhenti yang dilakukan juga oleh masyarakat desa. Cuma, karena mereka tidak mau menggembar gemborkantemuan, konsep, atau keinginan berbeda disbanding dengan masyarakat lain, perubahan perubahan itu tidak pernah mengemuka.tulisan tentang 40 jenis tipat (ketupat, kemasan ketupat) yang menggambarkan desai yang tak pernah berhenti, ditulis oleh Ketut Kendi Pradika, S.Pd. berupa laporan sebagai hasil penelitiannya dalam menyelesaikan tugas akhir S1 di Jurusan Pendidikan Seni Rupa, FBS UNDIKSHA pada tahun 2008. Beberapa diantaranya dijelaskan dengan uraian cara membuatnya lengkap dengan gambarnya. Disamping itu, disertakan pula sebagai perbandingan, hasil penelitian untuk keperluan yang sama dan di jurusan yang sama, yang dilaporkan oleh I Wayan Angga Wasta (Kerajinan Layang laying di Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, 2007).
JENIS ATAU BENTUK RUPA TIPAT BANTEN DI DESA KALIASEM, KECAMATAN BANJAR, KABUPATEN BULELENG
(Bagian dari Laporan Skripsi Ketut Kendi Paradika, S.Pd.)

Jenis tipat banten memiliki bentuk yang sangat beragam. Bentuk menjadi identitas dimana dan kapan tipat tersebut digunakan, Secara religius tipat yang dibuat sedemikian rupa merupakan pelengkap upakara atau banten, dibalik fungsinya tersebut jika diamati tipat banten juga memiliki unsur estetika baik itu keindahan dan keunikan tersendiri.
Jenis tipat banten sesuai dengan data yang diperoleh di desa Kaliasem, kecamatan Banjar, kabupaten Buleleng, antara lain adalah sebagai berikut :


  • Tipat Nasi
  • Tipat Sirikan
  • Tipat Galeng
  • Tipat Dampulan
  • Tipat Gong
  • Tipat Panggul
  • Tipat Taluh
  • Tipat Gatep
  • Tipat Bagia
  • Tipat Paser Gumi
  • Tipat Putu
  • Tipat Luh
  • Tipat Muani
  • Tipat Kepelan Peratu
  • Tipat Kibul Bebek
  • Tipat Kukur
  • Tipat Sidayu
  • Tipat Pasuh
  • Tipat Sesapi
  • Tipat Lulud Lare
  • Tipat Sari
  • Tipat Tumpeng
  • Tipat Tiga Sai
  • Tipat Kesuna
  • Tipat Genep
  • Tipat Rangkep
  • Tipat Penawa Jaya
  • Tipat Udang
  • Tipat Yuyu
  • Tipat Jan
  • Tipat Lawangan
  • Tipat Cakra
  • Tipat Trisula
  • Tipat Pgeh Tuuh
  • Tipat Pengambean
  • Tipat Siusepurna Muani
  • Tipat Siusepurna Luh
  • Tipat Nyongkok
  • Tipar Metajuh
  • Tipat Pagehan
  • Tiapat Ubi
  • Tipat Terompong
  • Tipat Nyuh
  • Tipat Penyebean
  • Tipat Belayag
  • Tipat Pesor



BENTUK LAYANG-LAYANG DI DESA LODTUNDUH, KECAMATAN UBUD, KABUPATEN GIANYAR (Bagian dari Laporan Skripsi I Wayan Alit Anggawasta, S.Pd.)

Layang-layang berekor
Yang dimaksud dengan sebutan ekor dalam layang-layang adalah penambahan kain panjang yang disambungkan pada bagian bawah layang-layang. Ini ditegaskan agar tidak tertukar dengan pengertian ekor pada model layang-layang bentuk burung. 
  1.  Layang-layang bentuk Naga
Bentuk naga merupakan bentuk yang pertama kali dikembangkan perusahaan Jaya Sairam dan layang-layang naga paling banyak penjualannya. Layang layang naga diproduksi bermacam-macam ukuran ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Pada ukuran small bentuk ornamen kepala naga agak sederhana, sedangkan pada ukuran medium, large, dan extra large bentuk ornamen kepala semakin detail dan tampak lebih bagus dan lebih galak.

  1. Layang-layang bentuk monyet
Layang-layang bentuk monyet bermotif binatang monyet yang berada di pohon kelapa dan duduk diatas buahnya dengan tangan terhentang dan tangan kiri monyet memegang sebuah kelapa. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan kontruksi bantang pada bentuk naga.

  1. Layang-layang bentuk macan
Layang-layang bentuk macan bermotif macan bersayap dengan mulut terbuka menampakkan wajah garang dengan kedua kaki depannya direntangkan dan kedua kaki belakang ditekuk. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan konstruksi bantang pada bentuk naga

Layang-layang tidak berekor
  1. Layang-layang kupu-kupu
Layang-layang kupu-kupu bermotif kupu-kupu dengan sayap terbuka dan warna warni penggambarannya secara dekoratif dan pewarnaanya sayapnya menggunakan tehnik ketul ( seperti pointilisme) dan bergradasi. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Konstruksi bantang yang digunakan sama dengan kontruksi bantang pada bentuk naga.

  1. Layang-layang burung
Layang layang bentuk burung ada bermacam-macam seperti bentuk burung elang, burung hantu, burung cendrawasih, dan burung onta. Secara mendasar semua bentuk burung tersebut bermotifnya burung yang sedang terbang, perbedaannya terletak pada hiasan kepala yaitu sesuai dengan bentuk burung yang dibuat. . Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Kontruksi bantang yang digunakan sama dengan konstruksi bantang pada bentuk naga.

  1. Layang-layang bentuk capung
Layang-layang bentuk capung bermotif binatang capung dengan dua pasang sayap terbuka. Pewarnaannya menggaunakan tehnik gradasi dengan arsiran. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large.

  1.  Layang-layang bentuk kelelawar
Layang-layang kelelawar bermotif kelelawar terbang dengan mulut terbuka. Ukuranya dibuat bermacam-macam ada extra small, small, medium, large, dan extra large. Kontruksi bantang yang di gunakan sama dengan konstruksi bantang pada bentuk naga.

  1. Layang-layang bentuk naga
Salah satu dari layang-layang berekor adalah layang-layang bentuk naga yang sangat bagus. Layang-layang naga berbentuk tiruan binatang naga yang bersayap dengan mulut terbuka. Konstruksi bantangnya bisa ditutup dan dikembangkan sehingga mudah dibawa kemana-mana.

UANG KEPENG DI BALI

Panji Koming dan Pailul, tokoh kartun ciptaan Dwi Koendoro, masih menggunakan uang “kepeng” untuk kegiatan transaksi jual beli mereka. Kedua tokoh tersebut adalah 
tokoh zaman Nusantara Lama yang dihadirkan kembali untuk “menyungging” kehidupan masa kini oleh pekartunnya dalam koran Kompas Minggu. Uang kepeng, bagi mereka, adalah nyawa kehidupan sehari-hari. Jauh setelah zaman Panji Koming, di Bali, uang kepeng masih memiliki harga yang tinggi. Bahkan, banyak masyarakat Bali yang sangat bangga bisa memiliki koleksi uang kepeng yang banyak daripada memiliki uang rupiah! 

Keterkaitan masa lalu dengan masa kini, pada masyarakat Bali, sangat kental. Masyarakat Bali yang beragama Hindu masih mengusung pola hidup yang erat kaitannya dengan para leluhur. Kawitan merupakan istilah yang digunakan sebagai sebutan tentang keterkaitan itu. Seorang warga Hindu Bali dianggap tidak bisa lepas dari ikatan asal (wit, ane mula), baik dengan leluhur maupun desa kelahiran. Oleh karena itu, pada setiap upacara besar, orang-orang Bali yang beragama Hindu, yang telah tinggal di luar desa, juga di luar Bali, harus pulang kampung untuk melaksanakan upacara di desa kawitannya. Hal lain yang menunjukkan bahwa masyarakat Bali masih terkait dengn keberadaan catatan masa lalu adalah pemanfaatan uang bolong (pis bolong, jinah bolong) yang biasa disebut ke-peng, dalam aneka kegiatan upacara. 
  
Uang bolong dimaksud adalah uang logam (terbuat dari bahan krawang atau sejenis bahan pembuatan gamelan, kuningan, juga perunggu) yang memiliki lubang pada bagian tengahnya. Lubang pada uang tersebut umumnya berbentuk segi empat. Ada juga yang berbentuk bundar, segi enam sama sisi, juga segi banyak tak beraturan. Orang Belanda menyebutnya Chinesche Duit atau juga Chinese Coins. 
  
Uang kepeng digunakan sebagai salah satu pelengkap sesajen (persembahan) dalam upacara. Panca yadnya adalah upacara yang terkait dengan keberadaan kepeng tersebut, terdiri atas dewa yadnya, rsi yadnya, pitra yadnya, manusa yadnya, dan butha yadnya. Pitra yadnya dan manusa yadnya, terutama, yang banyak memerlukan kelengkapan kepeng. Karena rutinnya upacara-upacara tersebut, pemakaian uang kepeng tidak pernah berhenti. Pada bulan Juli – September, setiap tahun, pesanan uang kepeng meningkat keras. Pada bulan-bulan tadi transaksi jual-beli uang kepeng di pasar  tradisional  Bali menjadi masa paling ramai, bertalian dengan bulan upacara bagi masyarakat Hindu. 

PERWUJUDAN, JIMAT DAN PERMAINAN

Penggunaan kepeng bisa ditemukan dalam berbagai bentuk benda upacara di Bali. Benda benda upacara seperti canang sari, penyugjug, sapsap, orti, banten penyeneng, kewangen, adalah sajen dan sejenisnya yang dilengkapi kepeng. Arca ini umumnya dibuat dari kayu cendana untuk bagian kepala dan dalaman tubuh patung. Pakaian patung sepenuhnya dibentuk dari untaian uang kepeng asli cina. Patung jenis ini bisa disebut patung Sedana, yang konon sebagai patung yang akan membawa keberuntungan. Sri Sedana adalah lambing dewi kekayaan.

PERJALANAN DESAIN

Perjalanan desain, masyarakat selalu menyesuaikan kebutuhannya dengan kondisi lingkungan. perubahan-perubahan yang dilakukan oleh masyarakat pengolah kesenian tradisi, misalnya, banyak melibatkan pendukung kesenian seperti unsur pemerintah, ahli teori seni, maupun masyarakat pendukung kesenian bersangkutan. 

Banyak contoh kesenian tradisional yang berubah dan menjadi kaya. misalnya batik pesisir. tetapi mereka melakukan penyaringan  dan sekaligus pengembangan sebagai bentuk kekayaan nilai kesenian yang baru.

Ada sebuah konsep pertunjukanyang dimaksudkan untuk mengubah dan memperkaya jenis pertunjukan wayang kulit Buleleng yang pada waktu itu belum disusupi genjek-ditunjukkanuntuk menggaet penonton muda.

Pertujukan wayang kulit adalah pertunjukan wayang yang menggunakan kelir atau layar. kelir berfungsi  sebagai media untuk menampilkan bayang. Oleh karena itu, istilah wayang diartikan sebagai bayangan. Wayang adalah jenis kesenian lama yang bisa bertahan hidup hingga masa kini dan tetap mendapat dukungan masyarakat pencintanya. sebagai kesenian masa lalu yang sekaligus masa kini, keberadaan wayang seperti yang disebutkan dalam beberapa prasasti, telah sangat tua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDEKATAN BAHASAN SENI RUPA