Ihwal Karya Seni Rupa 'Remeh'


IHWAL KARYA SENI RUPA REMEH

Karya Seni Rupa “Beyond The Pure Art
Banyak karya seni rupa yang tidak mendapat perhatian khusus dari para teoretisi seni rupa. Hal itu dikaitkan dengan anggapan bahwa karya-karya tersebut dianggap bukan karya adiluhung, yang menggambarkan latar belakang pemikiran akademisi. Karyakarya seni rupa jenis ini dianggap sebagai karya seni remeh, yaitu karya-karya yang dibuat oleh para pedesa. Para pekota, “lawan” pedesa, telah membangun gap theory yang membentengi lingkaran teori seni rupa akdemis-otodidak. Ketimpangan sikap sosial yang melatari pola teori Barat tidak begitu diperhatikan oleh para pelangsung dan pendukung teori tersebut. Di Indonesia yang mengagungkan teori ketimpangan tadi, juga mengabaikan begitu banyak karya seni rupa anak bangsa yang bobot nilai estetis maupun simbolisnya sangat tinggi. Sanento Yuliman yang tulisan-tulisannya kerap mempertanyakan tentang hal itu.

Batik, Sang Penjelajah Oleh Saneno Yuliman
Diterapkan untuk batik, kata itu tentu saja digunakan dalam arti kias. Batik, sebagai cabang seni, dikatakan menjelajah, dalam arti merambah ke berbagai arah, mencobakan sejumlah hal yang sebelumnya tidak dilakukan. Saya ingin menggarisbawahi kenyataan sejarah yang memperlihatkan betapa batik memiliki sifat penjelajah ini, dan ingin menggarisbawahi sifat ini sebagai unsur pokok yang di dalam pikiran kita selayaknya membentuk citra kita tentang batik. Terdapat jarak jauh antara batik sederhana dan kasar seperti itu di satu pihak, dan batik klasik, tradisional, Jawa, di pihak lain.
Orang hanya dapat takjub melihat kerumitan teknik yang menyangga ketinggian mutu itu. Proses pembuatan kain batik cukup rumit. Tentunya kita perlu mengingat pula peralatan dan perlengkapan yang digunakan. Terdapat perkembangan yang jauh dalam teknik, dari batik sederhana dan kasar yang telah kita singgung di muka, ke batik Jawa yang kita sebut tradisional atau klasik.
Empat ribu orang wanita sedang membatik yang disaksikan Rijklof van Goens waktu Gubernur V. itu mengunjungi keraton Mataram pada 1606 menunjukkan, bahwa pada awal abad ke-17 batik telah menjadi seni, dan industri, yang penting dalam keraton Mataram. Dalam abad itu ia harus bersaing dengan tekstil halus, bergambar, dari India, yang masuk dalam jumlah besar ke Nusantara. Perkembangan canting dan proses batik niscaya sebagian dipacu oleh tantangan ini, untuk menghasilkan kain yang tangguh dalam persaingan. Dalam melukiskan perubahan sosiologis masyarakat Jawa dari abad ke-17 sampai dengan abad ke-19, D. Batik terpacu melakukan penjelajahan dalam berbagai seginya untuk memenuhi tuntutan gerak kebudayaan ini.
Nyatanya, kebudayaan Jawa memasukkan busana dan batik adalah bagian pokok dalam busana Jawa ke dalam kagunan adiluhung, “fine arts”, sekedudukan dengan kacurigan, karawitan, tari, dll. Tantangan tidak berhenti dalam abad-17 dan ke-18. Pemerintah kolonial Hindia Belanda ditegakkan di abad-19, memperkecil dan memperlemah kekuasaan keratin-keraton, termasuk genggaman mereka atas batik. Pemerintah Hindia Belanda juga memasukkan bermacam etnis masyarakat yang terpilah-pilah ke dalam aneka kelompok etnis adalah ciri penduduk kota pesisir ke dalam satu tata pemerintahan, mempergiat komunikasi antar-etnis.
Batik ditantang bukan saja oleh kebutuhan yang harus dipenuhi, tetapi juga oleh persaingan. Pertemuan yang semakin erat, di abad lalu, dengan berbagai kelompok etnis, khususnya dengan kelompok orang Eropa dan terutama Cina, telah mendorong batik menyerap dan mengolah pola-pola hias asing dan melahirkan gaya-gaya khas sebagai bagian dari medan penjelajahannya. Di jaman kita, batik memperluas kawasannya ke daerah-daerah di luar Jawa dan menyerap serta mengolah berbagai unsur yang semula berada di luar rengkuhan batik. Tetapi batik memperluas jelajahannya di bidang guna.
Di masa kita sekaramg kawasan batik mencakup banyak macam pakaian, berjenis-jenis perlengkapan, dan berbagai barang untuk berbagai macam keperluan. Kita menyaksikan tumbuhnya perancang dalam berbagai jenis dan tingkat, mulai dari penyungging dalam perusahaan kecil dan menengah, yang kerjanya menyadur ragam hias terlaris di pasar, atau menggambar pola kemeja lengkap dengan ragam hiasnya, sampai designer jenis Iwan Tirta. Telaah ke arah rupa menyangkut telaah ke arah wahana yang mendukung rupa itu, yaitu bahan dan teknik. Dan telaah ke arah guna tentulah menyangkut telaah ke arah pemakaian, yang berkait dengan perilaku pemakai sehubungan dengan produk. Akhirnya, telaah tidak semata-mata tertuju kepada apa yang telah ada, yang potensial. Penjelajahan seperti itu tiada lain praktek penelitian dan pengembangan, yang bisa berlangsung di dalam perusahaan, atau pun di luarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDEKATAN BAHASAN SENI RUPA

POSISI BIDANG KERJA DESAIN DALAM SENI RUPA