Desain Sesudah Modernisme


DESAIN SESUDAH MODERNISME

Sekitar tahun 1900, muncul Art Nouveau sebagai aliran peralihan yang sangat dipengaruhi oleh aliran Art & Craft Movement yang telah berkembang di Inggris pada pertengahan abad 19, dengan tokohnya John Ruskin dan William Morris. Sedang Art Nouveau justru berusaha memanfaatkan kemajuan teknologi dan kekayaan yang telah dicapai oleh masyarakat industri masa itu.

Secara teori dan dari sudut pandang etis politis, Art Nouveau dapat dikatakan bertujuan menyatukan seni dan teknologi dalam kehidupan sosial sehari-hari. Di Jerman aliran ini dinamakan Jugendstil, sedang di Scotlandia dengan garis-garis yang lebih linier dikembangkan oleh kelompok The Glasgow Four dengan tokohnya Charles Rennie Mackintosch.

Faktor-faktor penyebab munculnya prinsip desain modernisme secara garis besar disebutkan sebagai berikut:

1.    Pertama, industrialisasi bersamaan dengan berkembangnya kapitalisme telah mendorong lahirnya ‘kelas menengah’ baru yang cukup makmur. Kebutuhan dan kemampuandalam pemilikan barang-barang menjadi semakin luas ke berbagai lapisan masyarakat. Dengan alasan untuk memenuhi tuntutan ‘demokratisasi’ ini maka diperlukan desain-desain yang sederhana dan terstandarisasi sehingga bisa diproduksi secara massal dengan harga yang terjangkau, serta tidak mewakili selera kelas tertentu (impersonal).
2.    Kedua, kemajuan teknologi telah memunculkan sejumlah fungsi baru dalam kebutuhan hidup masyarakat modern, sedang fungsi-fungsi lama mengalami transformasi.
3.    Ketiga, ditemukannya metode pengolahan dan teknik penggunaan bahan-bahan material baru. Dengan menggunakan material baja, beton bertulang dan kaca lebar, desain arsitektur dimungkinkan untuk mengeksploitasi bentuk-bentuk baru yang tadinya tidak dikenal, seperti bangunan berkantilever atau gedung-gedung pencakar langit dengan kerangka baja dan selaput dinding kaca (curtain wall). Desain industri juga makin berkembang melalui sejumlah eksperimentasi dan eksplorasi bahan, seperti berbagai jenis plastik, serat gelas (fibre glass), logam ringan sejenis aluminium atau campuran (alloy), baja tak berkarat (stainless steel), pelengkungan kayu lapis (laminated bentwood) dan lain sebagainya.

Pokok gagasan Modernisme lazim, penerapannya dapat dijabarkan lagi, yaitu:
Fungsionalisme

1.    Fungsionalisme
Salah satu aspek rasional desain adalah apabila ia mampu memenuhi sasaran praktisnya, yaitu fungsional. Meskipun nilai fungsi selalu melekat dalam konsep desain dari sejak awal, namun dalam pendekatan Modernisme, aspek ini menjadi gagasan yang diutamakan. Selain fungsi menjadi faktor determinan yang menentukan bentuk, fungsi sebuah desain atau elemen desain juga secara jujur direfleksikan bahkan diekspresikan oleh bentuk tanpa ditutup-tutupi atau dibuat-buat. Fungsionalisme dengan demikian dinilai sebagai pemenuhan kualitas sebuah desain. Selebih dari itu, akan dinilai sebagai ‘pemborosan’ pada hal-hal yang tidak fungsional.
2.    Estetika Mesin
Estetika mesin merupakan hasil penggabungan antara konsep seni dengan industri, yaitu kaidah-kaidah yang muncul dalam tuntutan rasionalitas industri. Nilai estetikanya mengacu baik pada bentuk mesin itu sendiri yang lugas, fungsional, tanpa ornamen atau dekorasi; sifat dan cara kerja mesin yang rasional dan efisien; serta pada benda-benda yang dihasilkan oleh sistem kerja mesin, yaitu sederhana, presisi dan terstandarisasi. Maka bentuk-bentuk desain yang dihasilkan adalah bentuk yang sederhana (simple), bersih (clean), dan jelas (clear).
3.    Kebenaran dan Kejujuran
Salah satu konsekuensi cara berpikir rasional yang merupakan dasar pendekatan desain Modernisme adalah kebenaran dan kejujuran. Kaum Modernis menganut pandangan bahwa rancangan yang baik adalah yang mempu menampilkan nilai-nilai kebenaran (truth) serta kejujuran (honesty) baik terhadap fungsi, material, maupun struktur/konstruksi. Namun demikian, konsepsi tentang ‘kebenaran dan kejujuran’ yang diajukan para penganjur Modernisme ini, sebenarnya sulit untuk diterima sebagai kategori ‘rasional-teknis’. Karena, bagaimanapun ‘kebenaran dan kejujuran’ adalah konsep yang sangat bersifat moralis-ideologis dan berlaku normatif. Artinya, konsep ini lebih sering berlaku sekadar sebagai justifikasi ideologis bagi keabsahan diterapkannya Modernisme, yang pada akhirnya, sebagaimana akan ditunjukkan kemudian, tidak dapat terus berguna untuk memepertahankan Modernisme sebagai ‘jalur utama’ desain pada paruh akhir dekade 770-an.
4.    Gaya Universal
Gelombang kebaruan pada pergantian abad yang dibawa oleh penemuan mesin, seolah-olah menuntut suatu kebaruan gaya atau corak desain yang sama sekali baru dan tidak mengacu pada gaya-gaya yang sudah ada sebelumnya. Pemunculan Modernisme, yang didasarkan pda pendekatan-pendekatan yang rasional, fungsional dan terukur, serta di dalamnya terkandung nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, dianggap memenuhi pencarian gaya yang sesuai dan mampu mewakili semangat jaman modern ini (Zeitgeist = spirit of the age). Karenanya, dengan dasar asumsi bahwa semua kebutuhan manusia bisa dirasionalisasikan, desain modern harus mampu merupakan jawaban paling benar bagi semua persoalan desain yang muncul di semua tempat yang berlaku untuk semua orang di segala waktu (universal).

Dinamika Perkembangan Modernisme

Pada dekade-dekade awal abad 20 dapat disebutkan beberapa gerakan yang berpandangan ke depan dalam desain misalnya adalah aliran Futurisme di Italia dan Konstruktivisme di Rusia . Pemujaan radikal terhadap komposisi bentuk-bentuk geometris yang kaku dan warna-warna primer yang dianggap netral dan objektif, muncul di Belanda sejalan dengan netralitas garis politiknya, yaitu aliran de Stijl. Kecenderungan bentuk geometris ini, tak dapat diabaikan juga merupakan pengaruh dari aliran seni rupa yang sedang berkembang pada masa itu yaitu Kubisme dan Ekspresionisme abstrak.

Salah satu tonggak perkembangan Modernisme adalah berdirinya sekolah desain Bauhaus yang dipimpin oleh Walter Gropius, di Weimar , dan kemudian pindah ke Dessau , Jerman. Dengan sejumlah tenaga pengajar adalah tokoh-tokoh seniman pembaharu aliran Kubisme Abstrak dan Konstruktivisme, seperti Paul Klee, Kandinsky, The van Doesburg, dan Josep Albers, Bauhaus menerapkan metode belajar yang membelot dari konsep Romantisme dan Historisisme karya-karya klasik. Melalui Bauhaus pula sempat timbul dua cabang aliran dalam arsitektur Modernisme, yaitu ekspresionisme dan rasionalisme.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDEKATAN BAHASAN SENI RUPA

POSISI BIDANG KERJA DESAIN DALAM SENI RUPA